Meniti jalan masa depan

Meniti jalan masa depan

Rabu, 30 Juni 2010

air mata di ujung senja, episode 1

Malam kian larut,meninggalkan jenak-jenak senja di batas kota,sekerumunan orang mulai beranjak meninggalkan aktivitas dan kembali ke peraduannya.
" kok melamun mbak?" sapa seorang laki-laki bertubuh kekar dan hitam.
" dug...jantungku kaget dibuatnya,oh..tidak pak,sedang nunggu angkot" jawabku singkat.
Secepat mungkin ku palingkan arah dan bergegas pergi meninggalkan bapak tersebut. bukan apa-apa, tapi hati ini sempat takut melihat penampilannya.
" mari pak, saya duluan" Sapaku sambil berjalan menyeberang.
Tak lelah-lelahnya mataku memandang sekeliling,kanan kiri depan belakang, semua memberikan pemandangan yang berbeda-beda dan ini adalah inspirasi untukku. Mungkin inilah yang membuatku masih bisa bertahan di tempat yang padet, macet dan kejam ini. Ya..karena aku orang santai, stay cool, dan no problem about it...for me everything its oke,,hehehe...sesekali menghibur diri.
Tentunya bukan karena itu, tapi karena aku yakin bahwa Allah telah menggariskan jalan yang terbaik untukku. tinggal bagaimana aku bersabar, berusaha dan bersemangat dalam menjalaninya.
Sepanjang perjalanan aku berangan-angan, mulai menyusun sebuah inspirasi dan peta hidup. Sesekali aku memainkan botol kaleng yang ada di depanku, sambil aku tendang-tendang ke depan. Pikiranku semakin melayang, melambung tinggi bersama malam, aku masih teringat pesan seorang teman sebelum aku pergi merantau ke negeri seberang.
" fa...suatu saat nanti kamu pasti akan merasakan yang namanya kesepian, bisa jadi sekarang kamu mengelak itu semua karena kamu punya banyak teman, saudara dan keluarga yang menyayangi, tapi suatu saat, kamu pasti akan sendiri, jauh dari mereka." kata aisha.
" iya...suatu saat, kan suatu saat, bukan sekarang " jawabku santai.
" tapi kamu tidak bisa seperti itu fa, persiapkan dari sekarang, mulai membuka diri, jangan terlalu sadis dengan laki-laki " lanjut aisha menegaskan.
" yahh...disadisin aja mereka masih berani menggoda, apalagi di baikin, iya kan?" jawabku sambil menatap wajahnya.
" huff, capek dech ngomong sama kamu ". aisha menjawab spontan.
hmm, tiba-tiba aku teringat percakapan itu. Iya, memang tidak bisa dipungkiri, setelah hampir satu bulan disini aku mulai merasakan kesepian.
" Baru pulang mbak iffa? suara ibu-ibu yang tidak asing menyapaku.
oh, ternyata aku sudah sampai di depan kost, tak terasa lamunanku mempercepat langkahku.
" iya bu, tadi sengaja jalan kaki soalnya nunggu angkot lama" jawabku lembut.
" makanya mbak, segera cari sopir pribadi saja biar bisa antar jemput " ibu kost melanjutkan.
Hah...sopir pribadi? jahat amat, masak cari suami dijadiin sopir ajah, huhu berat mak, batinku menjawab.
" he...iya bu, nanti saya coba tawari abang2 angkot, ada yang mau jadi sopir pribadi enggak " jawabku sambil bercanda.
" waduh...bukan itu maksud ibu mbak, tapi pendamping hidup, suami. nunggu apa lagi sich mbak? udah cantik, PNS, alim lagi, siapa yang tidak mau"
" hmm, ibu ini berlebihan, yang pasti belum ada yang mau bu, karena jodohnya belum datang "
Sambil berjalan aku melambaikan tangan " permisi dulu ya bu, mau sholat maghrib, terimakasih, mohon doanya saja "
Aku sengaja berlama-lama duduk bersimpuh di atas sajadah, aku hanya ingin mengadu, ingin berbagi cerita dengan sang kekasih sejatiku. Entahlah, tiba-tiba kesepian menyelimutiku dan aku merindukan seseorang untuk datang dan mendampingi perjalanan panjangku. Seseorang yang begitu lembut dan menyejukkan hati. Ya Allah...berilah hamba petunjukMu. Sembuhkanlah luka hati ini dan ijinkan hamba membuka ruang untuk umat terbaikmu.
Bibirku seolah kelu menyebut doa-doa tadi, hanya air mata yang mengucur deras membasahi pipi. Bukan aku merindukan jodoh yang tak kunjung datang, tapi aku masih merasakan trauma yang berkepanjangan. Peristiwa yang terjadi satu tahun lalu seolah menyisakan luka yang mendalam dan tak terobati. Betapa tidak, niatan untuk menggenapkan dien kandas di tengah jalan. Di saat undangan sudah tersebar, disaat tinggal menghitung hari dan disaat detik-detik penantian itu terasa indah. Astaghfirulloh, maafkan hambaMu ini ya Allah, hamba ikhlas...ikhlas dengan segala keridhoanMu.
Masih teringat jelas, saat hari tlah ditentukan dan gaun pengantin telah selesai di jahit, tiba-tiba salah seorang saudar menyeletuk cepat " wah, gaun calon pengantin warnanya ungu, cantik sich, tapi itu kan warna janda mbak...hayo...pamali atuh " kata sepupuku.
" Bu mali kali mbak...bukan pak mali " hehe, jawabku sambil bercanda.
Karena dalam hatiku juga sudah tertanam bahwa tidak boleh mempercayai sesuatu yang tidak ada ajarannya dalam islam, kalo masih percaya berarti salimul aqidah kita dipertanyakan.
Sambil mencoba baju itu, aku berputar-putar...rasanya bahagia sekali. Masa-masa penantian akan segera berujung dan pintu syurga akan dibuka lebar. Subhanallah, proses yang begitu cepat. Dikenalkan oleh seorang guru ngaji kemudian cocok dan lanjutlah. Entah, aku sendiri juga heran, dia orangnya biasa saja, standart dan dewasa. Padahal yang datang melamar ada yang lebih menurut orang-orang, ada yang dokter, ada yang direktur perusahaan bonafide dan ada juga yang PNS salah satu kementerian. Tapi aku malah memilih dia, entahlah, rasanya hati ini cocok saja. Dan ternyata pilihanku tidak salah, kata teman-teman bacaan Al-Qur'an nya sangat bagus dan membuat orang-orang meneteskan air mata dalam setiap sholat2nya. Subhanallah, walaupun aku sendiri juga belum pernah mendengarnya, tapi insyaAllah sebentar lagi, hehe.
Dia begitu sederhana, pekerjaan sehari-harinya adalah mengajar mahasiswa di Al-Azhar, Kairo.
Sungguh, kepribadiannya bisa jadi bertolak belakang denganku. Aku yang begitu cerewet dan hiperaktif. Yahh, beginilah jodoh, ketika sudah jalannya pasti akan dimudahkan.
" fa...jangan lupa habis ini ke tempat catering ya nak, segera di fix-kan menu makanannya" sapa ibu membangunkan lamunanku.
" oh, iya bu...siip,iffa segera kesana" jawabku ceria.
Sembari memasukkan gaun pengantin ke lemari, aku mengambil hp dan tiba-tiba dering suara hp berbunyi. Ternyata calon mertuaku menelefon.
" Assalamu'alaikum....mbak iffa ya?" suara dari seberang terdengar gugup.
" Wa'alaikumsalam wr.wb...iya ini iffa, ada apa ya pak " jawabku agak cemas.
" Mbak...inilah jalan Allah, takdir dari Allah yang harus kita terima...hiks..hiks..." suara tiba2 brhenti.
" ada apa pak...takdir apa?" jawabku semakin cemas.
" em...em..hiks..hiks...nak fauzi mengalami kecelakaan " suara isak tangis terdengar.
" Innalillahi...dimana pak? sekarang kondisinya bagaimana? di rumah sakit mana pak? tanyaku gugup.
" Kondisinya baik mbak...sekarang ada di rumah...datanglah kemari " suara dari seberang semakin terdengar sayup-sayup.
Plang...kakiku menabrak meja dan menjatuhkan botol minuman sampai pecah.
Astaghfirulloh...kakiku berlumuran darah, kena pecahan gelas. Sambil bergegas memakai jilbab dan kupaksakan memakai kaos kaki.
" Iffa...mau kemana? kenapa buru2 ?" tanya ibu khawatir.
" Astaghfirulloh...kakimu kenapa? kok banyak darah" tanya ibu semakin cemas.
" gpp bu..tadi kena pecahan gelas. iffa mau ke rumah fauzi, dia mengalami kecelakaan bu" jawabku menahan air mata.
" ibu ikut....sabar ya nak " suara ibu sedikit melemah.
Sembari menunggu ibu bersiap, aku mengambil motor, aku tidak mampu berfikir panjang lagi...padahal rumah fauzi sekitar 2 jam jika ditempuh dengan motor. Sementara itu, kakiku sudah berlumuran darah. Pikiranku melayang kemana-mana, mengingat candaan sepupuku tadi pagi. Kalo tidak apa-apa pasti aku tidak akan diminta kesana dan kalau parah pastinya dirawat di rumah sakit. Tidak...tidak...tidak, aku tidak mau berandai-andai.
Secepat mungkin kuayunkan motorku, melaju dengan kecepatan hampir 100, tak ada yang tersimpan di otak lagi, yang ada hanyalah pikiran untuk segera sampai dan melihat kondisinya.Ya Allah...semoga tidak terjadi apa-apa, semoga tidak terjadi apa...Lindungi kami ya Allah. Sepanjang perjalanan hatiku berdoa lirih dalam hati.
" Fa...hati-hati nak, tidak usah ngebut-ngebut!!!" ibu menepuk punggungku.
" iya bu, insyaAllah ini hati-hati, berdoa saja bu " jawabku mencoba tegar.
Perjalanan seolah sudah begitu panjang dan lama, berliku-liku dan terjal. Tapi kemana tak sampai juga. Entahlah sudah berapa jam, karena tak ada waktu untuk melihatnya. Kaki sudah terasa pegel-pegel, kepalapun begitu, badan mulai kaku dan linu. Jujur, sempat sayu pandangan ini dan seolah mau pingsan. Tapi ku azzamkan hati untuk tetap bertahan dan kuat. Astaghfirulloh, hamba sudah tidak sanggup lagi ya Allah. Galau hati serasa menambah kelelahan diri ini.
" Tettttttttttt....tettttttt....." bunyi klakson truk mengagetkanku.
" Ya Allah...ternyata aku melamun " gerutuku dalam hati.
Sambil tengok kanan-kiri aku mulai mengamati sekeliling, maklum aku belum begitu hafal rumahnya. Baru sekali saja berkunjung yaitu waktu ta'aruf dan berkenalan dengan orang tuanya. itupun sudah sebulan yang lalu. Alhamdulillah, sebuah gapura besar di kanan jalan mulai terlihat. Dan akupun mengambil inisiatif secepat kilat untuk berbelok. Lega rasanya sudah keluar dari kepadatan jalan raya.
Tapi, serasa ada yang aneh, kenapa tiba-tiba desa ini terlihat begitu sepi. Padahal matahari masih terlihat di ufuk barat, belum petang bahkan belum malam.
" Fa...kok sepi? benar ini jalan menuju rumahnya fauzi? " tanya ibu agak ragu.
" iya bu, seingat iffa benar " jawabku meyakinkan.
Tak lama ada gang kecil menuju sebuah masjid Al-Kahfi, akupun tersadar dan mulai sedikit gembira, masjid itu adalah masjid punya keluarga fauzi. Secepat mungkin aku berbelok dan rumah fauzi mulai terlihat. Tiba-tiba pemandangan terasa begitu aneh, kenapa banyak meja-meja dan kursi, kenapa banyak orang di depan rumah fauzi, sejuta pertanyaan menggelayutiku. Tapi aku menenangkan diri dengan alasan bahwa fauzi sedang kecelakaan jadi wajar jika banyak yang menjenguk. Selanjutnya aku berhenti, meletakkan motor dan bergegas turun. Sambil berjalan aku menyapa kanan-kiri dan menunduk hormat. Tapi aneh dan benar-benar aneh, kenapa semua orang terlihat sedih, dan akupun mengambil inisiatif untuk bertanya kepada salah seorang.
" Bu, bagaimana keadaan fauzi? banyak yang menjenguk ya bu " tanyaku pelan.
Tapi ibu tadi malah tidak menjawab, hanya menepuk-nepuk pundakku dan memberikan isyarat supaya aku masuk. Tak lama, ibu tadi meneteskan air mata.
Telingaku mulai mendengar tangisan-tangisan dari dalam ruangan, dan bulu kuduk ku mulai berdiri, ada sebuah rasa yang tidak tenang, tiba-tiba kesedihan menyelimutiku. Entahlah, tak tau kenapa. Lalu, saat kaki kiriku melangkah ke depan pintu rumah, tiba-tiba aku melihat sebujur tubuh manusia bertutupkan kain putih. Jantungku serasa copot. Dengan sejuta keberanian kucoba untuk bertanya.
" siapa yang meninggal pak? " aku bertanya kepada bapak-bapak yang ada disebelah pintu.
" Sabar ya nak...fauzi meninggal karena kecelakaan tadi pagi " jawab bapak itu lemas.
Detik itu juga, aku serasa di sambar petir, tubuhku dingin dan kaku, kakiku tiba-tiba tidak mampu digerakkan, lidahku kelu, dan tak terasa air mata menetes di pipi.
" Innalillahi Wa Innailaihi roji'uun...." aku berucap dengan setabah-tabahnya.
" Ya Allah kuatkan hamba, hamba ikhlas dengan segala ketentuanMu, semua yang berasal dariMu pasti akan kembali kepadaMu...kuatkan hamba ya Allah " dalam hatiku berbisik kelu.
Ibu memelukku dengan seketika sembari menepuk pundakku, ini sebuah isyarat supaya aku kuat. Dengan sekuat hati aku ayunkan kaki mendekati sebujur mayat tadi. Perlahan-lahan aku beranikan diri untuk melihat calon suamiku untuk yang terakhir kalinya. Sewaktu ku buka, tanganku serasa gemetar, dan kudengar ibu fauzi menangis berteriak keras. Entahlah, tiba-tiba aku melihat sekeliling buram dan tidak tahu apa yang terjadi lagi, sepertinya aku pingsan.
" Teng..teng...teng...teng...teng...teng...teng...teng " tiba-tiba jam bekerku berbunyi.
" Astaghfirulloh...waktu telah menunjukkan pukul 00.00, ternyata lamunanku dalam mengenang masa lalu tadi sebegitu lama " hatiku berucap.
Seketika aku langsung mengambil air wudhlu, bergegas cuci kaki dan persiapan tidur. Tapi mataku juga masih belum bisa terpejam. Memory satu tahun yang lalu masih melekat di hati, bukan tidak bisa melupakan, tapi rasa trauma yang begitu dalam. Betapa tidak, Allah mengambil calon suami dalam detik-detik terakhir ketika akan menggenapkan separuh dari Dien ini, ketika aku mengazamkan diri untuk membuka pintu syurga dengan berniat ibadah. Tapi Alhamdulillah, Allah memberiku kekuatan hingga detik ini, aku mampu bangkit dari keterpurukan hingga Allah memberikan rizki ketrima kerja dan jadi PNS. Sungguh, tidak bisa kubayangkan perasaan bapak ibu, disaat H-5, berbagai persiapan telah kelar, catering sudah fix, undangan sudah disebar dan gaun pengantin baru saja dicoba. Semua batal begitu saja. Tapi beginilah hidup, Skenario Allah mampu berubah kapan saja. Hanya doa yang bisa kupanjatkan semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Fauzi, di Syurga terindahNya. Dan Allah akan mendatangkan pengganti yang lebih baik, AMIN. Entahlah...kapan akan kukenakan gaun ini??? hanya Allah yang mampu memberi jawab atas semua gundah yang ada. (bersambung.....)


1 komentar:

ari setyawan mengatakan...

Ass ukhti...apa kabar.masih ingat?

Poskan Komentar